Pertemuan
kita memang sudah digariskan Tuhan. Walaupun aku lebih melihatnya tidak lebih
sebagai suatu kebetulan belaka. Pertama kali kita berjumpa di terminal
Purwokerto. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutku juga mulutmu,
ketika kita turun dari bis yang sama. Waktu itu memang aku tidak punya
inisiatif untuk mengajak ngobrol, karena aku sangat lelah dan bawaanku sangat
banyak, walau kamu terlihat sangat bingung. Mungkin ini juga pertama kalinya
kamu menginjakkan kaki di kota “mendoan” ini.
Pertemuan
yang kebetulan di sore hari yang ditemani rintik hujan itu, ternyata membawa
pertemuan-pertemuan yang tak terduga. Kita bertemu di warung makan sederhana
pinggir jalan. Kita bertemu saat dihukum senior karena tidak membawa
persyaratan. Dan, ketika kita bertemu, kamu selalu yang nyapa duluan.
“Hai” suara merdu itu yang selalu terniang di
telingaku.
“Dinda”
katamu memperkenalkan diri ketika pertama kali masuk kuliah.
Entah
kebetulan atau tidak, kita mengambil jurusan yang sama di kampus ini. Dengan
begitu kita jadi sering menghabiskan waktu bersama, pergi ke perpustakaan
bareng, mengerjakan tugas kuliah, atau hanya duduk di kantin kampus ditemani
secangkir kopi hitam kesukaanku. Tentunya, banyak mahasiswa lain yang melirik
ke arahmu. Mereka pasti terkagunm-kagum dengan kecantikkanmu. Atau mungkin juga
mereka heran, kenapa lelaki sepertiku bisa begitu akrab denganmu.
***
Waktu
berlalu begitu cepat, tak terasa kita sudah sangat dekat. Tak heran, kalau
orang-orang banyak yang penasaran, termasuk juga dosen-dosen yang penasaran
tentang hubungan kita. Kita memang sangat cepat akrab. Entah karena aku yang
pertama kali kamu kenal di kota ini, aku pun tak tahu pasti. Tapi, mungkin
karena kita sama-sama anak rantau, dan lagi-lagi kebetulan atau tidak, kita
sama-sama dari daerah pasundan, aku dari Garut dan kamu dari Bandung.
Kamu
memang cantik, Dinda, terlalu cantik bahkan, untuk selalu berdampingan denganku.
Aku akui itu. Di belakangku, banyak teman-teman yang menanyakan tentang kamu.
Bahkan ada diantara mereka yang blak-blakan jatuh cinta padamu, tapi mereka
malu, karena kamu orangnya memang terlalu cantik.
Cinta
memang bisa tumbuh dari seringnya waktu yang dihabiskan bersama. Rasanya, aku
mempercayainya. Awalnya, aku memang tidak menaruh hati padamu, sama sekali.
Karena aku tahu diri, tak pantas rasanya aku mencintai gadis secantik dirimu.
Dulu, aku pengagum rahasiamu, tapi sekarang benih cinta itu sudah tumbuh di
hati ini. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Namun, aku tidak tahu apa
yang ada di dalam pikiranmu. Apakah kamu merasakan hal yang sama, apa
biasa-biasa saja. Yang jelas, aku berada dalam kebimbangan akan cinta.
***
Tangisanmu
mengiringi kepergianku untuk merangkai asa dan merajut cita. Aku sangat hargai
pengorbananmu untuk setia menungguku hingga kembali kepangkuanmu. Dan aku sudah
terlanjur berjanji untuk setia menjaga cinta kita yang telah lama kita jaga.
Tak gampang mendapatkan cintamu, kamu memang bunga desa di kampungku, yang
banyak dicara para kumbang lapar yang haus akan belaian dari seorang gadis
sepertimu.
Tapi,
dari sekian banyak pemuda yang melamarmu, tak tahu kenapa kau jatuhkan pilihan
itu padaku. Pemuda biasa, yang tidak ada yang bisa dibanggakan. Lain dengan
pemuda yang melamarmu waktu. Ada yang seorang polisi, dokter, bahkan anggota
dewan, yang mengenalmu saat dia blusukkan saat kampanye, kamu hiraukan mereka
hanya untuk aku. Sungguh, aku terharu akan sikapmu. Tapi juga aku bimbang. Tak
mungkin pula aku menikahimu dengan status sosialku, yang hanya anak petani. Aku
yakin, orang tuamu tak rela punya menantu macam itu.
Kita
memang selalu bersama sejak kecil. Kita menghasilkan masa kecil dengan rasa
suka dan bahagia. Namun, semuanya berubah ketika ayahmu menjadi lurah. Kamu
tidak lagi bisa bermain bebas denganku. Namun, walau demikian kita masih sering
bertemu tanpa sepengetahuan ayahmu.
***
Rasa
itu aku pendam sebisaku. Walaupun mata ini tidak bisa membohongi dan rasanya
kamu pun bisa memahami itu. Lambat laun, kamu pun sudah mulai berubah, Dinda.
Pandanganmu tidak seperti yang dulu, cuek dan apa adanya ketika bertemu. Kini,
kamu berbeda tidak se-cuek biasanya. Walau pun kamu berusaha untuk bersikap
biasanya, tapi matamu, tidak bisa berbohong, bahwa kamu pun sejujurnya,
mempunyai rasa yang sama. Aku tahu itu dari matamu dan senyummu.
Apalagi
aku mendengar berita yang tak jelas dari teman-temanmu, yang membuatku semakin
yakin, tentang perasaan itu.
“Kamu
sebagai laki-laki harus punya pendirian, dia itu menunggu keputusan kamu. Anak orang
jangan dimainin hatinya” kata salah satu temanmu, yang mengaku dekat dengamu
sambil lalu.
Ah,
perasaan itu semakin hari semakin menyiksaku, Dinda. Rasanya ingin aku
keluarkan isi dalam hatiku, supaya kamu tahu, hati ini sudah tak sanggup
menampung perasaan ini. Tapi, inilah yang aku takutkan. Jatuh cinta. Bukannya
aku takut untuk membina suatu hubungan dengan lawan jenis, tapi aku takut ada
manusia yang tersakiti.
Kita
memang sering jalan-jalan berdua. Entah itu pergi ke alun-alun, lari pagi, atau
menemanimu belanja, kamu memang sangat suka belanja kan? Tapi, kali ini rasanya
berbeda. Kamu mungkin minta suatu kepastian dariku, iya kan? Sudahlah, aku bisa melihat semuanya dari matamu. Matamu sudah
berbicara semuanya, tanpa kamu harus mengeluarkan sepatah kata pun.
Kamu
pun terlihat harap-harap cemas. Ah,
terkadang aku tak tahu dengan apa yang ada di pikiranmu. Apa istimewanya
seorang anak kampung sepertiku, dibanding dengan teman-teman lain yang
menyukaimu.
“Aa”
katamu mengawali pembicaraan.
Aku
hanya tersenyum mendengar kata yang mesra yang keluar dari mulutmu, kali ini
memang berbeda. Katamu berisikan harapan walaupun itu semua terbalut dalam
kecemasan. Aku sangat pahami itu, Dinda.
“Dinda
sayang sama aa”
Duerr....
hatiku seakan diremas-remas dan seluruh tubuhku seakan tersambar petir di siang
bolong. Angin berhembus perlahan menerpa wajahmu dengan balutan kerudung yang
sangat serasi dengan pakaian yang kamu pakai. Aku tahu kamu akan mengatakan
kalimat itu, tapi aku tak menyangka akan secepat ini. Aku hanya diam dan
menatapmu dengan tajam.
Lama
aku terdiam.
“Bagaimana?”
katamu kali ini diberengi dengan rasa cemas dan harapan, menagih jawaban.
“Diam
kali ini memang bukanlah sebuah jawaban. Aku harus segera memutuskan dan
memberi jawaban” batinku, mungkin ini saat yang tepat.
“Dinda”
kataku sambil menatap wajahmu yang penuh dengan kecemasan.
“Sejujurnya,
aku pun mempunyai rasa yang sama, Dinda. Dan, rasa itu sudah ada sejak kali
pertama kita bertemu, tapi...” aku menghela nafas panjang dan membuatmu harus
menunggu lagi.
“Tapi??”
katamu dengan nada yang sangat heran.
“Ya,
tapi, aku sudah berjanji kepada seseorang untuk setia dan tidak akan mendua. Aku
tidak ada niatan juga untuk tidak menetapi janji, walau aku sangat mencintaimu,
Dinda.”
Akhirnya,
kali ini air mata itu pun mengalir dengan derasnya. Tidak ada kata yang terucap
dari mulutku dan mulutmu, layaknya pertama kali kita bertemu. Tapi, semua air
matamu sudah cukup banyak bicara, kecewanya kamu padaku. Ya, ini jalan yang aku
pilih, Dinda. Maaf, asal kamu tahu tidak ada sedikit pun niatan untuk membuatmu
menangis. Tapi rasanya, kata-kata untuk menenangkanmu tidak ada gunanya kali
ini, dan diam menikmati sore dengan semua perasaan yang bergejolak tak menentu
di hati kita adalah cara yang terbaik. Kita memang sangat menikmati sore ini,
tanpa sebuah kata pun. Tapi, mataku dan matamu seolah berbicara tentang
semuanya, hanya mata.
***
Sudah
hampir seminggu, kamu tidak menampakkan diri di depanku. Aku pun sadar diri,
ini semua karena keputusanku dan karena itu pulalah aku tak kuasa untuk
menanyakan kabar langsung padamu. Aku hanya mencari informasi dari teman
dekatmu, dan itupun tidak ada yang tahu. Ada yang bilang kamu sudah pulang ke
Bandung, ada juga yang bilang kamu mau pindah kampus ke Yogyakarta atau
Semarang. Entahlah.
Tapi,
semuanya agak sedikit jelas, setelah aku membaca surat darimu yang kutemukan di
buku catatan kuliahku.
Aku baru merasakan rasanya
dipermainkan oleh seorang laki-laki yang aku berharap banyak padanya. Mungkin
ini semua salahku, yang terlalu berharap padamu, maaf soal itu. Maaf juga,
karena aku telah mencintaimu sepenuh hati. Dan sekarang, aku tidak akan
mengganggu hidupmu lagi, semoga kau bahagia dengan wanita pilihanmu. Tapi, satu
hal, aku memang sudah memaafkanmu semampuku, tapi aku tak bisa melupakan rasa
sakit ini. Dengan surat ini, aku sudah memutuskan, bahwa seumur hidupku aku
akan mempermainkan hati seorang laki-laki yang mencintaiku, tentu kamu tidak
termasuk di dalamnya. Aku tidak ingin sendirian menikmati rasa sakit ini, aku
juga ingin orang lain merasakan hal yang sama. Tenang saja, walaupun apa yang
aku lakukan salah dan mungkin dosa, aku sudah meminta kepada Tuhan, kamulah yang
menanggung semua dosa itu. Dari orang yang selalu mencintaimu, Dinda.
Aku
hanya bisa terdiam membaca surat darimu. Ya,
aku akui aku salah karena telah mencintamu dan membiarkan kamu mempunyai rasa
yang serupa. Tapi, bisakah kamu mengerti sedikit tentang posisiku, Dinda. Aku
sudah bilang padamu, sedikitpun aku tidak ada niatan untuk menyakiti seorang
manusia, apalagi makhluk seindah kamu. Tapi, aku hanya ingin menepati janjiku
itu saja, walau memang kamu yang jadi korban atas kesetiaanku. Dan, soal
keputusanmu untuk mempermainkan hati lelaki yang mencintaimu, aku ikhlas
menerimanya asal kamu merasa senang.
***
Sehari
setelah membaca suratmu, aku mendapati surat yang lainnya.
Semoga Aa baik-baik aja
di sana. Sebelumnya aku minta maaf, mungkin keputusanku terlalu mendadak.
Langsung aja, jujur, aku tidak sanggup lagi untuk bertahan dari tekanan ayah
yang terus menjodohkanku. Awalnya aku sangat yakin padamu, dan aku selalu setia
akan janji kita. Tapi, aku pun tidak selamanya bisa membantah ayah. Seminggu
yang lalu, ada seorang guru yang datang ke rumah. Entah kenapa, aku tidak bisa
membohongi hati ini, ia berbeda dari lelaki yang sebelum-sebelumnya. Maaf, tapi
jujur aku jatuh hati padanya. Rasanya, akupun tidak tahan dengan jarak yang
memisahkan kita. Dan kamarin, guru itu datang ke rumah untuk melamar, dan dua
minggu lagi kita akan menikah. Maaf, karena aku telah mengecewakanmu dan tidak
bisa menepati janji kita. Tapi, aku harap kamu dapat mengerti akan posisiku.
Terima kasih.
Aku
terdiam.
