Rabu, 04 November 2015

Sebuah Cerpen: Terlanjur Untuk Setia


Pertemuan kita memang sudah digariskan Tuhan. Walaupun aku lebih melihatnya tidak lebih sebagai suatu kebetulan belaka. Pertama kali kita berjumpa di terminal Purwokerto. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutku juga mulutmu, ketika kita turun dari bis yang sama. Waktu itu memang aku tidak punya inisiatif untuk mengajak ngobrol, karena aku sangat lelah dan bawaanku sangat banyak, walau kamu terlihat sangat bingung. Mungkin ini juga pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di kota “mendoan” ini.
Pertemuan yang kebetulan di sore hari yang ditemani rintik hujan itu, ternyata membawa pertemuan-pertemuan yang tak terduga. Kita bertemu di warung makan sederhana pinggir jalan. Kita bertemu saat dihukum senior karena tidak membawa persyaratan. Dan, ketika kita bertemu, kamu selalu yang nyapa duluan.
 “Hai” suara merdu itu yang selalu terniang di telingaku.
“Dinda” katamu memperkenalkan diri ketika pertama kali masuk kuliah.
Entah kebetulan atau tidak, kita mengambil jurusan yang sama di kampus ini. Dengan begitu kita jadi sering menghabiskan waktu bersama, pergi ke perpustakaan bareng, mengerjakan tugas kuliah, atau hanya duduk di kantin kampus ditemani secangkir kopi hitam kesukaanku. Tentunya, banyak mahasiswa lain yang melirik ke arahmu. Mereka pasti terkagunm-kagum dengan kecantikkanmu. Atau mungkin juga mereka heran, kenapa lelaki sepertiku bisa begitu akrab denganmu.
***
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa kita sudah sangat dekat. Tak heran, kalau orang-orang banyak yang penasaran, termasuk juga dosen-dosen yang penasaran tentang hubungan kita. Kita memang sangat cepat akrab. Entah karena aku yang pertama kali kamu kenal di kota ini, aku pun tak tahu pasti. Tapi, mungkin karena kita sama-sama anak rantau, dan lagi-lagi kebetulan atau tidak, kita sama-sama dari daerah pasundan, aku dari Garut dan kamu dari Bandung.
Kamu memang cantik, Dinda, terlalu cantik bahkan, untuk selalu berdampingan denganku. Aku akui itu. Di belakangku, banyak teman-teman yang menanyakan tentang kamu. Bahkan ada diantara mereka yang blak-blakan jatuh cinta padamu, tapi mereka malu, karena kamu orangnya memang terlalu cantik.
Cinta memang bisa tumbuh dari seringnya waktu yang dihabiskan bersama. Rasanya, aku mempercayainya. Awalnya, aku memang tidak menaruh hati padamu, sama sekali. Karena aku tahu diri, tak pantas rasanya aku mencintai gadis secantik dirimu. Dulu, aku pengagum rahasiamu, tapi sekarang benih cinta itu sudah tumbuh di hati ini. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Namun, aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Apakah kamu merasakan hal yang sama, apa biasa-biasa saja. Yang jelas, aku berada dalam kebimbangan akan cinta.
***
Tangisanmu mengiringi kepergianku untuk merangkai asa dan merajut cita. Aku sangat hargai pengorbananmu untuk setia menungguku hingga kembali kepangkuanmu. Dan aku sudah terlanjur berjanji untuk setia menjaga cinta kita yang telah lama kita jaga. Tak gampang mendapatkan cintamu, kamu memang bunga desa di kampungku, yang banyak dicara para kumbang lapar yang haus akan belaian dari seorang gadis sepertimu.
Tapi, dari sekian banyak pemuda yang melamarmu, tak tahu kenapa kau jatuhkan pilihan itu padaku. Pemuda biasa, yang tidak ada yang bisa dibanggakan. Lain dengan pemuda yang melamarmu waktu. Ada yang seorang polisi, dokter, bahkan anggota dewan, yang mengenalmu saat dia blusukkan saat kampanye, kamu hiraukan mereka hanya untuk aku. Sungguh, aku terharu akan sikapmu. Tapi juga aku bimbang. Tak mungkin pula aku menikahimu dengan status sosialku, yang hanya anak petani. Aku yakin, orang tuamu tak rela punya menantu macam itu.
Kita memang selalu bersama sejak kecil. Kita menghasilkan masa kecil dengan rasa suka dan bahagia. Namun, semuanya berubah ketika ayahmu menjadi lurah. Kamu tidak lagi bisa bermain bebas denganku. Namun, walau demikian kita masih sering bertemu tanpa sepengetahuan ayahmu.
***
Rasa itu aku pendam sebisaku. Walaupun mata ini tidak bisa membohongi dan rasanya kamu pun bisa memahami itu. Lambat laun, kamu pun sudah mulai berubah, Dinda. Pandanganmu tidak seperti yang dulu, cuek dan apa adanya ketika bertemu. Kini, kamu berbeda tidak se-cuek biasanya. Walau pun kamu berusaha untuk bersikap biasanya, tapi matamu, tidak bisa berbohong, bahwa kamu pun sejujurnya, mempunyai rasa yang sama. Aku tahu itu dari matamu dan senyummu.
Apalagi aku mendengar berita yang tak jelas dari teman-temanmu, yang membuatku semakin yakin, tentang perasaan itu.
“Kamu sebagai laki-laki harus punya pendirian, dia itu menunggu keputusan kamu. Anak orang jangan dimainin hatinya” kata salah satu temanmu, yang mengaku dekat dengamu sambil lalu.
Ah, perasaan itu semakin hari semakin menyiksaku, Dinda. Rasanya ingin aku keluarkan isi dalam hatiku, supaya kamu tahu, hati ini sudah tak sanggup menampung perasaan ini. Tapi, inilah yang aku takutkan. Jatuh cinta. Bukannya aku takut untuk membina suatu hubungan dengan lawan jenis, tapi aku takut ada manusia yang tersakiti.
Kita memang sering jalan-jalan berdua. Entah itu pergi ke alun-alun, lari pagi, atau menemanimu belanja, kamu memang sangat suka belanja kan? Tapi, kali ini rasanya berbeda. Kamu mungkin minta suatu kepastian dariku, iya kan? Sudahlah, aku bisa melihat semuanya dari matamu. Matamu sudah berbicara semuanya, tanpa kamu harus mengeluarkan sepatah kata pun.
Kamu pun terlihat harap-harap cemas. Ah, terkadang aku tak tahu dengan apa yang ada di pikiranmu. Apa istimewanya seorang anak kampung sepertiku, dibanding dengan teman-teman lain yang menyukaimu.
“Aa” katamu mengawali pembicaraan.
Aku hanya tersenyum mendengar kata yang mesra yang keluar dari mulutmu, kali ini memang berbeda. Katamu berisikan harapan walaupun itu semua terbalut dalam kecemasan. Aku sangat pahami itu, Dinda.
“Dinda sayang sama aa”
Duerr.... hatiku seakan diremas-remas dan seluruh tubuhku seakan tersambar petir di siang bolong. Angin berhembus perlahan menerpa wajahmu dengan balutan kerudung yang sangat serasi dengan pakaian yang kamu pakai. Aku tahu kamu akan mengatakan kalimat itu, tapi aku tak menyangka akan secepat ini. Aku hanya diam dan menatapmu dengan tajam.
Lama aku terdiam.
“Bagaimana?” katamu kali ini diberengi dengan rasa cemas dan harapan, menagih jawaban.
“Diam kali ini memang bukanlah sebuah jawaban. Aku harus segera memutuskan dan memberi jawaban” batinku, mungkin ini saat yang tepat.
“Dinda” kataku sambil menatap wajahmu yang penuh dengan kecemasan.
“Sejujurnya, aku pun mempunyai rasa yang sama, Dinda. Dan, rasa itu sudah ada sejak kali pertama kita bertemu, tapi...” aku menghela nafas panjang dan membuatmu harus menunggu lagi.
“Tapi??” katamu dengan nada yang sangat heran.
“Ya, tapi, aku sudah berjanji kepada seseorang untuk setia dan tidak akan mendua. Aku tidak ada niatan juga untuk tidak menetapi janji, walau aku sangat mencintaimu, Dinda.”
Akhirnya, kali ini air mata itu pun mengalir dengan derasnya. Tidak ada kata yang terucap dari mulutku dan mulutmu, layaknya pertama kali kita bertemu. Tapi, semua air matamu sudah cukup banyak bicara, kecewanya kamu padaku. Ya, ini jalan yang aku pilih, Dinda. Maaf, asal kamu tahu tidak ada sedikit pun niatan untuk membuatmu menangis. Tapi rasanya, kata-kata untuk menenangkanmu tidak ada gunanya kali ini, dan diam menikmati sore dengan semua perasaan yang bergejolak tak menentu di hati kita adalah cara yang terbaik. Kita memang sangat menikmati sore ini, tanpa sebuah kata pun. Tapi, mataku dan matamu seolah berbicara tentang semuanya, hanya mata.
***
Sudah hampir seminggu, kamu tidak menampakkan diri di depanku. Aku pun sadar diri, ini semua karena keputusanku dan karena itu pulalah aku tak kuasa untuk menanyakan kabar langsung padamu. Aku hanya mencari informasi dari teman dekatmu, dan itupun tidak ada yang tahu. Ada yang bilang kamu sudah pulang ke Bandung, ada juga yang bilang kamu mau pindah kampus ke Yogyakarta atau Semarang. Entahlah.
Tapi, semuanya agak sedikit jelas, setelah aku membaca surat darimu yang kutemukan di buku catatan kuliahku.
Aku baru merasakan rasanya dipermainkan oleh seorang laki-laki yang aku berharap banyak padanya. Mungkin ini semua salahku, yang terlalu berharap padamu, maaf soal itu. Maaf juga, karena aku telah mencintaimu sepenuh hati. Dan sekarang, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, semoga kau bahagia dengan wanita pilihanmu. Tapi, satu hal, aku memang sudah memaafkanmu semampuku, tapi aku tak bisa melupakan rasa sakit ini. Dengan surat ini, aku sudah memutuskan, bahwa seumur hidupku aku akan mempermainkan hati seorang laki-laki yang mencintaiku, tentu kamu tidak termasuk di dalamnya. Aku tidak ingin sendirian menikmati rasa sakit ini, aku juga ingin orang lain merasakan hal yang sama. Tenang saja, walaupun apa yang aku lakukan salah dan mungkin dosa, aku sudah meminta kepada Tuhan, kamulah yang menanggung semua dosa itu. Dari orang yang selalu mencintaimu, Dinda.
Aku hanya bisa terdiam membaca surat darimu. Ya, aku akui aku salah karena telah mencintamu dan membiarkan kamu mempunyai rasa yang serupa. Tapi, bisakah kamu mengerti sedikit tentang posisiku, Dinda. Aku sudah bilang padamu, sedikitpun aku tidak ada niatan untuk menyakiti seorang manusia, apalagi makhluk seindah kamu. Tapi, aku hanya ingin menepati janjiku itu saja, walau memang kamu yang jadi korban atas kesetiaanku. Dan, soal keputusanmu untuk mempermainkan hati lelaki yang mencintaimu, aku ikhlas menerimanya asal kamu merasa senang.
***
Sehari setelah membaca suratmu, aku mendapati surat yang lainnya.
Semoga Aa baik-baik aja di sana. Sebelumnya aku minta maaf, mungkin keputusanku terlalu mendadak. Langsung aja, jujur, aku tidak sanggup lagi untuk bertahan dari tekanan ayah yang terus menjodohkanku. Awalnya aku sangat yakin padamu, dan aku selalu setia akan janji kita. Tapi, aku pun tidak selamanya bisa membantah ayah. Seminggu yang lalu, ada seorang guru yang datang ke rumah. Entah kenapa, aku tidak bisa membohongi hati ini, ia berbeda dari lelaki yang sebelum-sebelumnya. Maaf, tapi jujur aku jatuh hati padanya. Rasanya, akupun tidak tahan dengan jarak yang memisahkan kita. Dan kamarin, guru itu datang ke rumah untuk melamar, dan dua minggu lagi kita akan menikah. Maaf, karena aku telah mengecewakanmu dan tidak bisa menepati janji kita. Tapi, aku harap kamu dapat mengerti akan posisiku. Terima kasih.

Aku terdiam. 

RESENSI BUKU : AYO....BELAJAR NULIS ARTIKEL

Judul : Tips dan Trik Menulis Artikel Layak Jual
Pengarang : Aan Herdiana-Novi Mulyani
Penerbit : nulisbuku.com (mitra penerbit)
Tahun terbit: 2015
Jumah halaman: 167 halaman 

Menulis artikel, dan kemudian dimuat di media massa memang mempunyai kebanggan tersendiri. Nama Anda dimuat di koran tersebut, dihiasi dengan gambar yang dibuat oleh redaktur atau ilustrator koran, dan artikel anda dibaca oleh ribuan orang. wow.... sungguh momen yang indah, bukan?
Selain itu, anda pun akan mendapatkan honor dari koran, lumayan lah buat tambah-tambah.

Buku ini membahas hal-hal teknis yang harus dimiliki dan dikuasi oleh calon penulis artikel. bagaimana membuat judul yang menarik, unik, dan memikat, Bagaimana membuat lead atau kalimat pembukan yang membuat orang merasa tertarik untuk membacanya, bagaimana membuat pembahasan dalam tubuh artikel dengan analisa yang tajam dan menarik, juga bagaimana menutup sebuah artikel.

Jelas, hal teknis tersebut harus dikuasi oleh seorang penulis, terlebih penulis pemula. buku ini membahas dengan sangat sederhana dan mudah dimengerti. Yang lebih membantu lagi, buku ini disertai dengan contoh-contoh bagaimana membuat judul, lead, pembahasan, dan lainnya. Dengan demikian, diharapkan anda bisa lebih mudah dalam mempelajar proses pembuatan artikel.

Buku ini cocok bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Bahasanya yang sederhana, membuat buku ini bisa masuk ke seluruh lapisan masyarakat.

Kreativitas Anak dan Permainan Tradisional

Awal bulan ini, akhirnya saya pulang kampung. Rasa kangen yang amat sangat, hilang seketika, saat berjumpa dengan orang-orang tercinta. Tak pelak, obrolan-obrolan hangat pun mengalir spontan dari mulut kami, apalagi sambil melahap oleh-oleh yang saya bawa. Sungguh momen kebersamaan yang sangat indah.
Setelah beberapa saat berbincang, pandangan saya tertuju kepada keponakan yang baru kelas 2 SD, yang lagi asyik mengerjakan tugas sekolah. “Lagi ngerjain apa, De?” tanya saya sambil ngelus-ngelus rambutnya. “Ini tante, lagi gambar pemandangan” katanya tanpa menoleh.
Sekilas, saya melihat memang dia lagi menggambar pemandangan. Tetapi, seketika juga hati saya langsung miris dibuatnya.
Ya, dia sedang menggambar pemandangan, sebuah gunung dengan segala ornamennya, yang hampir sama -kalau tidak mau dianggap sama persis- dengan yang penulis gambar waktu SD dulu (sekitar tahun 1995-an). Kiranya kita sudah bisa menyimpulkan, objek yang digambar, antara lain ada gunung menjulang (biasanya dua buah), ada matahari yang bersinar terang, diatasnya ada awan, kadang-kadang diselingi gambar burung yang lagi terbang, kemudian ada gambar jalan menuju gunung tersebut, disebelahnya ada sawah dengan tanaman padi, pohon kelapa, dan lainnya.
Ketika seperti itu adanya, adalah hal yang sulit untuk memunculkan kreatifitas anak dalam mengaplikasikan ide-ide yang ada dalam kepalanya. Pertanyaanya kemudian, apakah tidak ada objek pemandangan lain, selain gunung?
Kreatifitas dan inovasi anak bangsa, dalam berbagai bidang, merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi untuk pembangunan bangsa ini. Rasanya, tidak ada perubahan yang berarti, tanpa adanya kreatifitas manusia. Tanpa kreatifitas dan keuletan Thomas Edison, saya yakini, dunia ini masih ada dalam kegelapan.
Peran keluarga
Seperti yang kita pahami bersama, keluarga adalah adalah sekolah pertama anak. Tentunya hal ini, berimplikasi kepada tumbuh kembang, karakter, kepribadian, dan kreatifitas anak di masa awal kehidupannya. Jika keadaan dalam keluarga kondusif untuk perkembangan anak, maka anak akan berkembang dengan baik.
Tetapi sebaliknya, jika keluarga tidak harmonis, misalnya orang tua selalu bertengkar karena satu dan lain hal, maka keluarga tidak akan bisa menjadi “sekolah” pertama yang efektif, karena iklim keluarga yang tidak harmonis akan berdampak pada anak, yang bisa jadi anak akan ikut “rusak”.
Menurut Mansur, kreatifitas bukanlah bakat yang terjadi karena faktor keturunan. Kreatifitas lebih banyak ditentukan oleh faktor lingkungan, terutama pada pola asuh dari orangtuanya. Sejalan dengan pendapatnya Mansur tersebut, studi Catter dan Butcher, menggunakan analisis faktor terhadap penampilan kreatif, menemukan bahwa 95% varian berasal dari determinasi lingkungan dan hanya 5% berasal dari bawaan. Oleh karena itu, untuk mengkondisikan lingkungan yang dapat merangsang kreatifitas anak, maka diperlukan dukungan dan pemahaman orangtua.
Kreativitas dan permaianan tradisional
Memiliki anak yang kreatif adalah dambaan setiap orangtua. Tetapi untuk mewujudkannya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Butuh pola asuh orangtua yang memahami kebutuhan anak sepenuhnya. Munandar menjelaskan, bahwa salah satu sarana belajar yang efektif untuk meningkatkan kreatifitas anak usia dini adalah dengan bermain. Laksana kepingan uang logam, anak dan bermain tidak bisa terpisahkan satu dengan yang lainnya. Bermain merupakan kesukaan setiap anak, dimanpun dan kapanpun. Bahkan tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun kadang masih suka bermain.
Mengingat begitu pentingnya kegiatan bermain bagi anak-anak, untuk perkembangan kreatifitasnya, sudah sepantasnya orang tua (pendidik utama dan pertama) untuk memberikan perhatian yang lebih. Yang tidak kalah penting, adalah peran orang tua dalam memilih jenis permaianan bagi anak. Karena seiring berjalannya waktu, arus globalisasi makin terasa di setiap sendi kehidupan umat manusia. Tak terkecuali dalam dunia bermain anak-anak.
Dewasa ini, popularitas permaianan tradisional telah tergeser oleh hadirnya mainan-maianan modern yang banyak menggunakan teknologi yang canggih. Hal ini adalah sebagai konsekuensi logis dari pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini. Akan tetapi, bukan berarti permainan-permaianan tradisional bisa ditinggalkan begitu saja. Seolah sudah ketinggalan zaman dan tidak dibutuhkan lagi. Padahal banyak sekali manfaat dari permaianan “anak kampung” ini.
Tidak bisa dipungkiri, anak-anak yang tinggal di kota besar –bahkan sampai ke pelosok desa- sekarang ini lebih mengenal permaianan modern, seperti komputer, video game, play station, dan permaianan canggih lainnya, daripada permaianan lompat karet, congklak, bola bekel, main kelereng, dan sebagainya.
Padahal menurut para pakar, permaianan tradisional dapat mengisi kekosongan penanaman nilai sosial dan latihan fisik, yang kurang disinggung dalam permaianan modern. Dalam hal ini, permaianan tradisional memang banyak bersinggungan dengan optimalisasi beberapa segi perkembangan anak.
Hal yang tidak kalah penting dari permainan tradisional adalah permaianan ini lebih menggali kreatifitas anak. Sebagai contoh sederhana, dalam mencari bahan untuk bermain. Misalnya, kreatifitas anak dalam bermain bulu tangkis, yang karena ketiadaan raket, kemudian menggantinya dengan mengunakan piring yang terbuat dari seng, ataupun kayu yang dibuat menyerupai raket, ataupun yang lainnya. Pada dasarnya, banyak dari permaianan tradisional memakai bahan baku yang mudah didapat karena sudah ada di alam sekitar.
Orang tua tidak mungkin melarang anak untuk tidak melakukan permainan modern, karena anak lahir pada era modern. Tapi sebaiknya, juga harus dibarengi dengan permainan tradisional untuk melatih kreatifitas anak. Kreatifitas anak sangat dituntut untuk menuju bangsa yang siap bersaing dimasa depan. Dan bermain, khususnya dengan permainan tradisional, merupakan media yang efektif untuk menggali kreatifitas anak.
Penulis :

Nama : Novi Mulyani, M.Pd.I